Contoh Kerangka Bab 3 Skripsi untuk Penelitian Kualitatif, Kuantitatif dan Pengembangan

5 min read

Contoh Kerangka Penulisan BAB II Skripsi

Eurekapendidikan.com – Pada skripsi, BAB 3 merupakan bagian yang menjadi alur bagaimana kita melakukan penelitian. Mulai dari cara mengumpulkan data, mengolah atau menganalisis data dan menyimpulkan atau menetapkan simpulan dari sebuah hipotesis semua tercantum di dalam BAB 3.

Jadi, sebaiknya susunlah bab 3 secara hati-hati dan pahami dengan baik bagaimana cara mengumpulkan data dengan suatu instrumen (membuat quesioner, angket, ceklist, tes dsb) sampai pada rancangan untuk menentukan simpulan dari hipotesis. Apakah H0 ataukah Ha yang akan diterima.

Pada kesempatan kali ini, Eurekapendidikan akan mencoba memberikan gambaran bagaimana menyusun bab 3 agar alur penelitian kamu menjadi lebih terarah.

Untuk memulai menyusun bab 3, hal pertama yang harus kamu ketahui adalah sub-sub dalam bab 3 itu sendiri.

1. Sub-sub untuk penelitian Kuantitatif

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Objek dan Ruang Lingkup Penelitian
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
3.3 Metode Penelitian
3.4 Variabel Penelitian dan Pengukurannya
3.5 Populasi dan Sampel
3.6 Prosedur Pengumpulan Data
3.7 Metode Analisis

2. Sub-sub untuk penelitian Kualitatif

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Objek dan Ruang Lingkup Penelitian
3.2 Waktu dan Tempat / Lokasi Penelitian
3.3 Metode Penelitian
3.4 Strategi & teknik penelitian
3.5 Indikator Penelitian
3.6 Populasi dan Sampel
3.7 Pengumpulan & penentuan data
3.8 Metode Analisis

3. Sub-sub untuk penelitian Pengembangan

BAB III  METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
B. Prosedur Penelitian/ Pengembangan

Tahap I  : Studi Pendahuluan
Tahap II : Tahap Pengembangan Model

  1. Model Pengembangan (Desain Produk
  2. Validasi Desain
  3. Revisi Desain
  4. Uji Coba Produk
    • Desain Uji Coba
    • Subjek Uji Coba
    • Jenis Data
    • Instrumen Pengumpulan Data
    • Teknik Analisis Data

5.  Revisi Produk
6.  Evaluasi Dan Penyempurnaan
7.  Model Hipotetik (Model Akhir Hasil Revisi pada Tahap Pengembangan Model)

Tahap III : Tahap Evaluasi/Pengujian Model
Tahap IV : Diseminasi (untuk jenjang S2)

Kurang lebihnya seperti itulah sub-sub yang ada pada bab 3 suatu penelitian. Berikut ini adalah penjelasan mengenai sub-sub bab di atas.

Penelitian Pengembangan

BAB III  METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
B.  Prosedur Penelitian/ Pengembangan
Pada  bagian  ini  memuat  tahapan  prosedur  pengembangan  yang  akan  digunakan.  Tahapan tahapan yang  akan  dilakukan dalam  melakukan  pengembangan, tergantung  pada  referensi  yang
digunakan. Namun secara garis besar, pada tahapan ini dibagi ke dalam 3 tahapan, yaitu:

  • Tahap I: Studi Pendahuluan;
  • Tahap II: Tahap Pengembangan Model; dan
  • Tahap III: Tahap Evaluasi/Pengujian Model

Tahap I : Studi Pendahuluan

1. tahap  studi  pendahuluan  dilakukan  dengan  menerapkan  pendekatan  deskriptif  kualitatif. Studi  kualitatif  diawali  dengan studi literatur kemudian studi lapangan  tentang  produk yang akan dikembangkan.

2. Pada  studi  pendahuluan  ini  diakhiri  dengan  ”  deskripsi  dan  analisis  temuan  (Model faktual)

Tahap II : Tahap Pengembangan Mode

Dalam tahap ini  hendaknya memuat butir-butir

1. Model pengembangan (desain Produk)
Model  pengembangan  dapat  berupa  model  prosedural,  model  konseptual,  dan  model teoretik. Model  prosedural  adalah  model  yang  bersifat  deskriptif,  yaitu  menggariskan langkah-langkah  yang  harus  diikuti  untuk  menghasilkan  produk.  Model  konseptual adalah  model  yang  bersifat  analitis  yang  memerikan  komponen-komponen  produk  yang akan  dikembangkan  serta keterkaitan  antarkomponen  (misalnya  model  pengembangan  rancangan  pengajaran  Dick  dan  Carey,  1985).  Model  teoretik  adalah  model yang menunjukkan hubungan perubahan antar peristiwa.

Dalam  bagian  ini  perlu  dikemukakan  secara  singkat  struktur  model  yang digunakan sebagai dasar pengembangan produk. Apabila model yang digunakan merupakan adaptasi dari model yang sudah ada, maka pemilihannya perlu disertai dengan alasan, komponen-komponen yang disesuaikan, serta kekuatan dan kelemahan model itu. Apabila  model  yang  digunakan  dikembangkan  sendiri,  maka  informasi  yang  lengkap mengenai  setiap  komponen  dan  kaitan  antarkomponen  dari model  itu  perlu  dipaparkan.

Perlu diperhatikan bahwa uraian model diupayakan seoperasional mungkin sebagai acuan dalam pengembangan produk.

2.  Validasi desain
Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai apakah rancangan produk lebih efektif atau tidak. Dalam tahap ini vadasi masih bersifat penilaian berdasarkan pemikiran rasional, belum fakta dilapangan.  Validasi  produk dpat dilakukan dengan mengahdirkan beberapa pakar.

3. Revisi Desain

4. Uji coba produk
Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat digunakan sebagai dasar  untuk  menetapkan  tingkat  keefektifan,  efisiensi,  dan/atau  daya  tarik  dari  produk yang dihasilkan.

Dalam butir uji coba produk secara terbatas perlu diungkapkan

a) desain uji coba
Secara lengkap, uji coba produk pengembangan biasanya dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu   uji perseorangan,   uji   kelompok   kecil,   dan   uji   lapangan.   Dalam   kegiatan pengembangan, pengembang  mungkin  hanya  melewati  dan  berhenti  pada  tahap  uji perseorangan, atau dilanjutkan dan berhenti sampai tahap uji kelompok kecil, atau sampai uji lapangan. Hal ini sangat tergantung pada urgensi dan data yang dibutuhkan melalui uji coba itu.

Desain  uji  coba  produk  bisa  menggunakan  desain  yang  biasa  dipakai  dalam  penelitian kuantitatif,  yaitu  desain  deskriptif  atau  eksperimental.  Yang  perlu  diperhatikan  adalah ketepatan  memilih  desain  untuk  tahapan  tertentu  (perseorangan,  kelompok  kecil,  atau lapangan)  agar  data  yang  dibutuhkan  untuk  memperbaiki  produk  dapat  diperoleh  secara lengkap.

b) subjek uji coba
Karakteristik subjek uji coba perlu diidentifikasi secara jelas dan lengkap, termasuk cara pemilihan subjek  uji coba  itu. Subjek  uji coba  produk bisa  terdiri dari  ahli di  bidang  isi produk , ahli di bidang perancangan produk, dan/atau sasaran pemakai produk. Subjek uji coba yang ahli di bidang isi produk dapat memiliki kualifikasi keahlian tingkat S1 (untukskripsi),  S2  (untuk  tesis),  dan  S3 (untuk  disertasi).  Yang  penting  setiap  subjek  uji  coba yang dilibatkan harus disertai identifikasi karekteristiknya secara jelas dan lengkap, tetapi terbatas dalam kaitannya dengan produk yang dikembangkan. Teknik pemilihan subjek uji coba juga perlu dikemukakan agak rinci.

c) jenis data
Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat digunakan sebagai dasar  untuk  menetapkan  tingkat  keefektifan,  efisiensi,  dan/atau  daya  tarik  dari  produk yang dihasilkan. Dalam konteks ini sering pengembang tidak bermaksud mengumpulkan data  secara  lengkap  yang  mencakup  ketiganya.  Bisa  saja,  sesuai dengan  kebutuhan pengembangan,  pengembang  hanya  melakukan  uji  coba  untuk  melihat  daya  tarik  dari suatu produk, atau hanya untuk melihat tingkat efisiensinya, atau keduanya.

Penekanan  pada  efisiensi  suatu  pemecahan  masalah  akan  membutuhkan  data  tentang efisiensi  produk   yang  dikembangkan.   Begitu  pula   halnya  dengan  penekanan  pada keefektifan atau daya tarik. Atas dasar ini, maka jenis data yang perlu dikumpulkan harus disesuaikan  dengan  informasi apa  yang  dibutuhkan  tentang  produk  yang  dikembangkan itu.

Paparan mengenai jenis data yang dikumpulkan hendaknya dikaitkan dengan desain dan pemilihan subjek uji coba. Jenis data tertentu, bagaimanapun juga, akan menuntut desain tertentu dan subjek uji coba tertentu. Misalnya, pengumpulan data mengenai kecermatanisi dapat dilakukan secara perseorangan dari ahli isi, atau secara kelompok dalam bentuk seminar  kecil,  atau  seminar  yang lebih  luas  yang  melibatkan  ahli isi,  ahli  desain,  dan sasaran pemakai produk.

d) instrumen pengumpulan data
Bagian ini mengemukakan instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data seperti yang  sudah dikemukakan  dalam  butir  sebelumnya.  Jika  mengunakan  instrumen  yang sudah  ada,  maka perlu  ada  uraian  mengenai  karakteristik  instrumen  itu, terutama mengenai   keshahihan   dan keterandalannya.   Apabila   instrumen   yang   digunakan dikembangkan sendiri, maka prosedur pengembangannya juga perlu dijelaskan.

e) teknik analisis data.
Teknik   dan   prosedur   analisis   yang   digunakan   untuk   menganali-sis   data   uji   coba dikemukakan  dalam  bagian  ini  dan  disertai  alasannya.  Apabila  teknik  anal isis  yang digunakan sudah cukup dikenal, maka uraian tidak perlu rinci sekali. Akan tet api, apabila teknik tersebut belum banyak dikenal, maka uraian perlu lebih rinci

5. Revisi Produk,
Revisi Produk ini dilakukan apabila dalam pemakaian kondisi nyata terdapat kekurangan dan kelemahan

6. Evaluasi dan Penyempurnaan,
7.  Model Hipotetik (Model akhir hasil revisi pada tahap pengembangan model)

Tahap III : Tahap Evaluasi/Pengujian Model

Setelah pengujuan terhadap produk berhasil, maka selanjutnya produk tersebut diterapkan dalam kondisi  nyata  untuk  lingkup  yang  lebih  luas.  Dalam  tahap  ini,  dignakan  metode eksperimen. Setelah  pngujian  model,  masih  dimungkinkan  ada  revisi  produk,  kemudian  barulah menjadi MODEL FINAL, yang siap untuk DISEMINASI.

Teknik Penilaian Non-Tes

Teknik Penilaian Non-Tes Eureka Pendidikan – Teknik penilaian non-tes dapat digunakan untuk mengetahui proses dan produk dari hasil belajar peserta didik, misalnya berkaitan dengan...
Ahmad Dahlan
2 min read

Cara Membuat Abstrak yang Baik

Pengertian Abstrak EurekaPendidikan.com – Abstrak adalah kegiatan terakhir yang dilakukan penulis artikel tetapi merupakan bagian yang paling pertama dibaca orang. Hal ini disebabkan pembaca...
Ahmad Dahlan
3 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *